Dari 10 jenis penyakit terbesar yang terpantau di Instalasi Rekam Medik RSMH Palembang, salah satunya thalasemia yang berada urutan kedelapan. Kendati berada di posisi delapan, namun perkembangan jenis penyakit ini tidak dapat dianggap remeh karena penyakit ini belum ada obatnya.
Sebagai informasi, dari hasil laporan rekam medik RSMH periode akhir tahun 2007 khususnya yang tercatat per 31 Desember 2007, terpantau 32 penderita baru begitu pun di periode Oktober ditemukan 30 penderita. Ini artinya, penyakit thalasemia mengejala di Sumsel, khususnya di Palembang.
Thalasemia sendiri adalah adalah penyakit keturunan dengan gejala utama pucat, perut tampak membesar karena pembengkakan limpa dan hati apabila tidak diobati dengan baik akan terjadi perubahan bentuk tulang muka dan warna kulit menjadi menghitam.
Penyebab penyakit ini adalah kekurangan salah satu zat pembentuk hemoglobin (Hb) sehingga produksi hemoglobin berkurang. Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut zat asam dari paru-paru ke seluruh tubuh, selain itu yang memberikan warna merah sel darah merah.
Hemoglobin terdiri dari 4 molekul zat besi (heme), 2 molekul rantai globin alpha dan 2 molekul rantai globin beta. Rantai globin alpha dan beta adalah protein yang produksinya disandi oleh gen globin alpha dan beta.
Setiap sifat dan fungsi fisik pada tubuh kita dikontrol oleh gen, yang bekerja sejak masa embrio. Gen terdapat di dalam setiap sel tubuh kita. Setiap gen selalu berpasangan. Satu belah gen berasal dari ibu, dan yang lainnya dari ayah. Di antara banyak gen dalam tubuh kita, terdapat sepasang gen yang mengontrol pembentukan hemoglobin pada setiap sel darah merah. Gen tersebut dinamakan gen globin terdapat di kromosom.
Transfusi Massal
Di RSMH sendiri khususnya di Instalasi Rawat Anak, pada hari-hari tertentu setiap minggunya, seperti Senin-Rabu di lantai II gedung ini terdapat transfusi massal pada penderita thalasemia, mulai dari usaia 2-17 tahun.
Kehidupan mereka tergantung dengan transfusi darah yang dilakukan secara berkala (berperiodik) mulai dari 3-5 bulan sekali harus transfusi. Jika tidak, tubuh pasien thalasemia ini akan lemas, pucat, mata sembab dan demam.
“Kalau tidak mendapatkan transfusi darah, dikhawatirkan kekebalan tubuh mereka lemah sehingga memudahkan penyakit lain masuk,” kata dr Ferri Usnizar, SpPD.
Terkadang masalah yang sering muncul, penderita kesulitan darah di PMI karena stok darah kosong. Sebagai saran, lanjut dr Ferri, sebaiknya penderita membawa anggota keluarga untuk dijadikan pendonor dengan sarat jenis golongan darahnya sama dengan penderita.
“Kalau darah PMI kosong, pendonor keluarga yang dipakai sehingga penderita tidak terlambat mendapatkan darah,” katanya.*** (sin)
***Harian SRIPO




